Masa Depan Kemanusiaan


Masa_Depan_Kemanusiaan

 

Kisah tentang manusia super selalu digandrungi orang di manapun di seluruh dunia. Tokoh-tokoh superhero, tak dapat dipungkiri, banyak menginspirasi orang dan kehadirannya selalu dinantikan. Kisah fiksi mengenai superhero pun telah membuat Hollywood mencetak milyaran dolar. Namun, dunia superhero ternyata bukanlah dunia anak-anak semata. Narasi superhero merupakan sebuah ungkapan kemanusiaan yang begitu dalam. Begitulah Paul Heru Wibowo memaparkannya dalam buku “Masa Depan Kemanusiaan: Superhero dalam Pop Culture”.

Buku ini dengan apik membahas kehadiran manusia super dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasannya dimulai dari fantasi anak-anak sampai dengan delikuensi moral yang melanda manusia modern. Kehadiran superhero digambarkan sebagai refleksi atas kebutuhan manusia modern untuk terbebas dari persoalan hidup sehari-hari yang semakin berat. Ketika manusia biasa tidak mampu mengatasi persoalan hidup, siapa lagi yang bisa diharapkan selain para superhero?

Tak ayal masyarakat Indonesia pun gandrung dengan para superhero ini. Serial di televisi seperti Heroes sampai dengan komik Superman menjadi favorit masyarakat. Namun, ada apa sesungguhnya di balik “kematian” Superman yang disengaja oleh DC Comics? Benarkah itu akal-akalan pemasaran? Buku ini membahasnya di Bab 8 dengan menampilkan data-data akurat yang menarik untuk dibincangkan oleh penggemar superhero. Penulis pengupas para pencipta superhero ini demi kepentingan yang sesunguhnya paradoks, di satu sisi demi sebuah kebutuhan masyarakat tetapi di sisi lain demi mencari dollar demi kebutuhan kantong pribadi. Tak urung, kita dibawa kepada dunia superhero yang merefleksikan problematika kehidupan masyarakat secara riil, yaitu permasalahan hidup yang hampir tidak pernah sederhana.

Bukan hanya para tokoh fiksi kenamaan dari Hollywood yang dikupas sisi kemanusiaannya. Tokoh lokal seperti Gundala atau Godam pun tak luput dari perhatian dan menjadi topik yang diperbincangkan. Namun, berbeda dengan kisah a la barat yang erat dengan teknologi canggih dan ilmu pengetahuan, superhero Indonesia seperti Gundala dan Godam justru cenderung “bersentuhan dengan anasir cerita rakyat (folklore) dan mitologi lokal”(hlm. 298).

Mungkin itulah mengapa komik Si Buta dari Goa Hantu (1960) atau Wiro Sableng menjadi sukses ketika difilmkan. Film dan kisah “heroik” tersebut agaknya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kita. Dalam bagian pembahasan mengenai pendekar-pendekar lokal (hlm. 321-327) buku ini memaparkan bagaimana perjalanan sebuah komik menjadi sebuah film memberikan gambaran bahwa sesungguhnya gagasan mengenai superhero itu begitu merasuk dalam alam pikir masyarakat kita.

Di satu sisi, buku ini menjadi semacam ensiklopedi mengenai superhero dunia. Sebagian besar kita yang pernah membaca, menonton, atau bahkan mengoleksi karya superhero lokal seperti terbawa ke masa lalu, masa kejayaan superhero Indonesia yang mungkin kini mulai musnah ditelan zaman.

Dengan membaca bab demi bab, kita diantar ke “dunia superhero” dari Amerika, Jepang, hingga negeri kita sendiri. Superhero a la Jepang yang menyerbu Indonesia melalui manga, misalnya, tak luput dari perhatian buku ini. Dengan demikian, kita semakin memahami siapakah diri kita ketika mengikuti alur pikiran penulis. Dengan caranya, penulis membangun kontekstualisasinya dengan kehidupan masyarakat kita. Gambaran itu terangkum dengan jelas dari apa yang dikatakan oleh St. Sunardi dalam pengantarnya bahwa buku ini setidaknya mengantarkan pembaca untuk menafsirkan fenomena superhero guna menafsirkan masyarakat. Pada saat yang sama kita pun sadar bahwa sungguh, ada saatnya kita terlalu penat dengan realita hidup yang berat dan kita menantikan seorang manusia super yang datang menyelamatkan kita

Judul : Masa Depan Kemanusiaan
Penulis : Paul Heru Wibowo
Penerbit : LP3ES
Harga : Rp 149.000,-

Advertisements

One comment on “Masa Depan Kemanusiaan

  1. Dear Gramedia Pejaten,
    terima kasih banyak atas ulasan terhadap buku saya. Ulasannya begitu lugas, komprehensif, cerdas, dan sangat menarik. Semoga hal itu dapat memberikan gambaran yang cukup obyektif bagi para pencinta buku, terutama bagi mereka yang ingin berpetualang di dalam analisis kebudayaan. Sekali lagi, saya mengucapkan banyak terima kasih. Semoga Gramedia Pejaten sukses selalu. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s