Celotehan Linda (Jurnalis, Penulis, Humanis)


Linda Djalil memang benar-benar sudah membuktikan dirinya, tidak betul-betul pensiun jadi wartawan. Buku ini adalah salah satu wujudnya. Seperti disampaikan oleh Bondan Winarno dalam kata pengantar buku yang baru terbit akhir Juni 2012 tersebut, “Wartawan tetap akan menulis sampai akhir hayat”. Dan begitulah, rangkaian tulisan mantan jurnalis majalah TEMPO dan GATRA itu dalam buku ini tidak sekedar menunjukkan eksistensi seorang Linda Djalil dalam dunia penulisan namun lebih dari itu, era jurnalisme warga yang berkembang via internet sekarang menjadi sebuah media menuangkan opini dan ekspresi tentang banyak hal seputar kehidupan, dan disini, gelegak nyali dan naluri kewartawanannya mendapat tempat “penyaluran”-nya.

Sudah lama saya mengenal sosok wartawan senior ini, terlebih sejak orang tua saya berlangganan majalah Tempo, tempat bekerja wartawati yang bertugas di Istana Presiden selama 9 tahun ini . Sepak terjang Linda Djalil, perempuan kelahiran 23 Juni 1958 dalam kiprahnya sebagai wartawan majalah Tempo cukup fenomenal. Tulisan-tulisan yang memikat di media tersebut menjadi salah satu daya tarik saya untuk membacanya. Kegesitannya “menembus” pertahanan narasumber yang sulit ditemui serta jaringan persahabatannya yang luas terlebih sejak menjadi wartawati istana, membuat tulisan-tulisan karya wartawati yang tahun silam menghasilkan buku kumpulan puisi “Cintaku Lewat Kripik Balado” ini seakan “hidup” dan mengesankan. Tak salah bila dalam kata pengantar buku tersebut, Putu Wijaya menyampaikan: Linda tidak memamerkan keterampilan pertukangan kata. Ia tidak “memainkan”kata dan kalimatnya. Ia memilin yang diceritakannya. Ia menaburinya dengan rasa. Itulah yang membuat “reportase”-nya menjadi unik. Dan karenanya puitis.

Tulisan dalam buku “Celotehan Linda” ini tidak hanya menuangkan sejumlah pengalamannya juga pengamatan kritisnya pada fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.  Sebagian besar isi buku ini merupakan tulisan-tulisan Linda Djalil di blog Kompasiana dan juga di blog pribadinya. Penyampaiannya lugas dan sistematis. Gaya bahasa ala ibu satu anak dalam tulisannya begitu nikmat dicerna. Kita seakan diajak duduk berdua bersamanya, bercengkrama, bercakap dengan nyaman sembari menikmati teh manis panas serta biskuit, melihatnya bercerita dengan ekspresi beragam, sembari menyaksikan senja yang luruh di batas cakrawala. Mulai dari kisah seram angkernya Istana Presiden, Anas Urbaningrum yang pinjam mobil teman, bagaimana ketika mantan Pangkopkamtib alm.Sudomo marah, sampai kenangan masa kecilnya yang indah, tersaji apik pada buku ini. Saya sungguh beruntung mengenal sosok beliau melalui interaksi diblog Kompasiana bahkan kemudian bisa hadir pada peluncuran buku ini.

Di blog, Linda Djalil seperti mendapatkan ruang bebas untuk menyampaikan ekspresi dan fikirannya tanpa mesti melalui birokrasi penyuntingan redaksional sebagaimana yang pernah dirasakannya dulu saat masih jadi wartawan. Ia begitu lugas dan tegas menyampaikan apa yang terbit di hati lewat tulisan meskipun terkadang tidak selaras dengan “bahasa formal” di dunia jurnalistik. Linda Djalil “merayakan kebebasan” itu tentu bukan tanpa kendali, sentilan maupun ulasannya dalam tulisan terasa begitu gurih dan renyah dengan rujukan yang jeli dan gaya reportase yang tajam bahkan seringkali membuat pembaca tertawa karena lelucon yang disajikan.

Judul : Celotehan Linda (Jurnalis, Penulis, Humanis)
Penulis : Linda Djalil
Penerbit : Kaki Langit Kencana
Harga : Rp 60.000,-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s